Wednesday, December 21, 2011

Bapak Tua Penjual Amplop from Facebook




Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat,
bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.



Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.



Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.



Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Friday, November 18, 2011

Kacamata - Entah

ini kacamata yang judulnya entah tapi yang ini video clipnya ada yang akustik.. :|


ini baru yang akustiknya belum yang livenya.. :|
ini baru yang livenya . :D :D

Tuesday, November 15, 2011

PWG lagu baru

Pee Wee Gaskins sedang latian bawain lagu Baru :D

ini reff lagu baru Pee Wee Gaskins di video yg ada di podtingan sebelum ini :)
Hey kau yang ada di sana...
hiduplah denganku...
mari kita nikmati, hidup kita sampai hari ini...

ini lagu sudah dicerna,lagu untuk lamaran kayaknya sih :D
Menurut gw Omo yg ciptain ini lagu,apa jangan-jangan ini lagu buat lamaran si Shera Mutia ya hahaha #Gossip :)

Friday, November 11, 2011

11.11.11

Hari yang mengasyikkan walau pun banyak yang tidak disukai :D dan tepat pukul 11:11 (y)

Hari ini aku pergi ke sekolah dengan suasana senang dan ceria tetapi telat...
pagi- pagi pelajaran mtk uuuhh sudah pusing di buat pelajaran yang gue tidak sukai -_-" tetapi semua berjalan dengan lancar. pelajaran kedua B. inggris.. gue suka pelajaran ini walaupun pernah dapet 45, tp ulangan di pelajaran ini gurunya akrab dengan gue, tetapi agak bau sih badannya... pelajaran ketiga, yaitu IPS banyak gak tuntas kalo pelajaran saat ulangan hampir satu kelas...

Sepulang sekolah gue kebut-kebutan tuh dijalanan memakai motor Cbr 250, walaupun motor itu minjam tetapi tetep seru... Setelah bermain motor kita pergi ke mall lebih tepatnya lagi ke J.co (tempat yang coffeenya pahit) tadinya sih mau nonton tapi anak-anak memilih bermain Maximum Tune (game mobil-mobilan tapi bisa disave gitu) di XXI soalnya enak kalo main di situ...
Habis dari mall kita semua pulang tapi gue pergi ketempatnya Fadel (temen karib gue) dan gue langsung menonton bola antara INDONESIA VS QATAR karena di rumah fadel rame yang nonton bola...

Setelah selesai nonton bola gue pulang dan ngantuk tanpa melihat jam kalo sekarang jam 3 pagi tetapi gue tetep Woles walaupun malam menghadang dan akhirnya gue kalah dalam pertarungan malam, akhirnya gue tidur walaupun gak nyenyak...

Permisi Selamat Malam....




Atas Nama Bangsa Indonesia


@Noval Aditya Aji

(WTF)

Sunday, November 6, 2011

Crayon Shinchan

Crayon Shinchan




            C         Em                              Am      G
Seluruh kota merupakan tempat bermain yang asik
            F                      G         C
Oh senagnya aku senang sekali

C         Am      Dm      G
Kalau begini akupun jadi sibuk
C         Am      Dm      G
Berusaha mengejar-ngejar dia

            F          Fm                   Em      Am
Matahari menyinari semua perasaan cinta
            Dm      F                      G
Tapi mengapa hanya aku yang dimarahi

            C                     Em                  Am      G
Dimusim panas merupakan hari bermain gembira
            F
Sang gajah terkena flu
            G
Pilek tiada henti hentinya
            C                     Em                  Am      G
Sang beruang tidur dan tak ada yang berani ganggu dia
            F                      G         C
Oh sibuknya aku sibuk sekali